/
Dongeng

Bujang Beji dan Batu Kelam: Legenda Abadi dari Bumi Sintang

19
×

Bujang Beji dan Batu Kelam: Legenda Abadi dari Bumi Sintang

Share this article
Example 468x60

Di mana dendam seorang kesatria menjadi monolit raksasa yang kini menjulang 1.002 meter di atas tanah Kalimantan Barat.

SINTANG, KALIMANTAN BARAT — Jauh sebelum ada peta, jauh sebelum nama Sintang tertera di atlas manapun, sebuah legenda telah mengukir dirinya dalam ingatan kolektif masyarakat Dayak di tepi pertemuan dua sungai besar: Kapuas dan Melawi. Legenda itu bernama Bujang Beji — tokoh tragis yang ambisinya melampaui batas akal, dan keangkuhannya berbuah abadi dalam bentuk bongkahan batu raksasa yang kini disebut Bukit Kelam.

Example 300x600

Bukit Kelam, atau Gunung Kelam, bukan sekadar objek wisata biasa. Monolit setinggi 1.002 meter di atas permukaan laut ini tercatat sebagai salah satu monolit terbesar di dunia, melampaui El Capitan di Yosemite Amerika Serikat yang hanya 910 meter. Namun di balik kemegahan geologisnya, tersimpan kisah manusia tentang iri hati, keserakahan, dan kekuatan alam yang tak bisa dilawan.

Dua Pemimpin, Dua Sifat yang Bertolak Belakang

Alkisah, di Negeri Sintang pada zaman yang tak terhitung, hiduplah dua orang pemimpin yang sama-sama memiliki kesaktian luar biasa. Keduanya berasal dari keturunan dewa, namun sifat mereka bagaikan langit dan bumi.

Bujang Beji

Antagonis

Dikenal pula sebagai Sebeji. Pemimpin berkesaktian tinggi namun berwatak pemarah, serakah, dan pendengki. Tidak seorang pun boleh menandingi ilmunya. Sedikit pengikut karena ditakuti, bukan dicintai.

Temenggung Marubai

Protagonis

Pemimpin yang murah hati, rendah hati, dan suka menolong. Dicintai rakyatnya. Bijak dalam mengelola sumber daya alam demi keberlangsungan jangka panjang.

Keduanya bermata pencaharian sebagai penangkap ikan, berladang, dan berkebun. Bujang Beji menguasai wilayah Simpang Kapuas, sementara Temenggung Marubai menguasai Simpang Melawi. Ada kesepakatan tak tertulis: masing-masing tak boleh memasuki wilayah sungai yang bukan haknya.

Benih Iri Hati yang Tumbuh Jadi Dendam

Masalah bermula ketika kenyataan berbicara pahit. Sungai Melawi kaya akan ikan — beraneka jenis, berlimpah jumlahnya. Temenggung Marubai mengajarkan rakyatnya cara menangkap ikan yang bijak: menggunakan bubu raksasa dari bambu, dan hanya mengambil ikan yang sudah besar. Ikan kecil yang ikut terperangkap selalu dilepaskan kembali, agar kelak berkembang biak. Hasilnya, ikan di Melawi tak pernah habis.

“Biarkan kembali ikan-ikan kecil yang turut tertangkap bersamanya nanti. Kelak setelah ikan-ikan itu telah besar dan beranak pinak, barulah kita menangkapnya.”

Bujang Beji, sebaliknya, memilih jalan pintas. Ia meracuni sungainya sendiri dengan tuba — racun dari akar tumbuhan hutan yang memabukkan. Memang, pada awalnya ia mendapat banyak ikan. Namun lama-kelamaan, ikan di Simpang Kapuas habis tak bersisa. Ironisnya, sungai yang dirusak sendiri itulah yang kemudian menjadi sumber kemarahannya terhadap orang lain.

Menyaksikan Temenggung Marubai terus menuai hasil yang melimpah sementara sungainya sendiri kering dari ikan, Bujang Beji menyusun rencana yang jauh lebih besar dan jauh lebih gila.

Rencana Gila: Menyumpal Sungai dengan Batu Raksasa

Dengan kesaktiannya, Bujang Beji pergi ke hulu — ke Nanga Silat di Kabupaten Kapuas Hulu — dan mengangkat puncak sebuah bukit batu yang masif. Rencananya sederhana namun ambisius luar biasa: ia akan melemparkan batu raksasa itu ke muara Sungai Melawi, menyumbat alirannya, dan membuat ikan-ikan terkurung di hulu agar tak bisa lagi ditangkap oleh Temenggung Marubai.

Data Geografis · Bukit Kelam

Lokasi administratifKecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalbar

Ketinggian1.002 meter di atas permukaan laut

Panjang bentangan2–3 kilometer (barat ke timur)

Status kawasanTaman Wisata Alam (TWA)

Jarak dari Kota Sintang±20 km (±1 jam perjalanan darat)

Jarak dari Pontianak±345 km (±7–8 jam perjalanan darat)

Catatan duniaMonolit terbesar pertama versi Touropia

Tawa Bidadari dan Duri yang Mengubah Segalanya

Bujang Beji berjalan memanggul batu raksasa itu. Di kahyangan, para bidadari memandang ke bawah dan tertawa menyaksikan keangkuhan manusia fana yang hendak mengacaukan tatanan alam dengan rencananya yang konyol. Tawa mereka terdengar oleh Bujang Beji.

Refleks, ia mendongak ke langit — mencari sumber suara. Saat itulah kakinya menginjak duri beracun yang tersembunyi di tanah. Nyeri yang tiba-tiba melumpuhkan konsentrasinya. Batu raksasa yang selama ini ia pikul dengan kesaktian penuh itu terlepas dari genggaman, jatuh, dan terbenam dalam di tanah — tepat di kawasan yang kini disebut Kecamatan Kelam Permai.

“Batu yang dibopongnya kini tidak jadi menyumbat Sungai Simpang Melawi dan menghunjam abadi di Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.”

Bujang Beji mencoba mencongkel batu yang sudah terbenam itu dengan sebuah bukit memanjang yang ia jadikan pengungkit. Namun sia-sia. Bukit itu patah — patahannya kini diabadikan sebagai Bukit Liut. Batu yang jatuh tetap tak bergerak. Ia menjadi permanen. Ia menjadi Bukit Kelam.

Dendam yang Berujung pada Kehancuran Diri

Kegagalan tidak memadamkan amarah Bujang Beji — justru memperbesarnya. Ia menoleh ke langit dan bersumpah akan membalas dendam kepada para bidadari yang menertawakannya. Rencananya kini lebih gila lagi: ia menanam pohon kumpang mambu, sejenis pohon raksasa yang konon bisa tumbuh menjulang hingga ke kahyangan.

Pohon itu tumbuh dengan cepat, puncaknya menembus awan. Bujang Beji mulai mendaki. Namun di langit, para makhluk kahyangan — beserta kawanan rayap dan beruang yang digerakkan oleh pihak yang menentangnya — mulai menggerogoti batang pohon dari bawah.

Pohon kumpang mambu pun tumbang. Bujang Beji ikut terhempas bersama runtuhnya batang raksasa itu ke hulu Kapuas. Menurut legenda, tubuhnya yang hancur kemudian dibagi-bagikan oleh masyarakat sekitar untuk dijadikan jimat kesaktian. Itulah akhir dari Bujang Beji — sang kesatria yang musnah oleh keserakahannya sendiri.

Bukit Kelam Hari Ini: Dari Legenda ke Destinasi Dunia

Kini, batu yang dulu jatuh karena ambisi Bujang Beji itu berdiri megah sebagai salah satu keajaiban alam Kalimantan. Bukit Kelam telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam (TWA) dan menjadi ikon Kabupaten Sintang. Bahkan pernah masuk 5 besar dari 74 objek taman wisata terbaik Indonesia dalam Festival Taman Nasional di Yogyakarta.

Kawasan ini menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa. Flora endemik yang paling terkenal adalah Nepenthes clipeata — kantong semar berbentuk unik yang hanya tumbuh di celah tebing curam Bukit Kelam pada ketinggian 600–800 mdpl. Berwarna kemerahan, kantong semar ini telah menarik minat peneliti dari berbagai penjuru dunia. Selain itu, Bukit Kelam juga menjadi rumah bagi anggrek hitam yang langka.

Bagi para petualang, tersedia jalur pendakian lewat sisi barat dengan via ferrata — tali pelindung yang dipasang di tebing — sehingga wisatawan dapat mencapai puncak dengan aman namun tetap menantang. Dari atas, hamparan Sintang dengan dua sungai besarnya terlihat memukau. Air yang mengalir dari Bukit Kelam bahkan menjadi sumber air minum kemasan dan pembangkit listrik bagi warga Sintang.

Nilai Moral dari Legenda Bujang Beji

  • Sifat iri hati dan serakah pada akhirnya menghancurkan diri sendiri, bukan orang lain.
  • Pengelolaan sumber daya alam yang bijak — seperti cara Temenggung Marubai — memastikan keberlanjutan untuk generasi mendatang.
  • Musyawarah dan mufakat lebih kuat dari kesaktian individual manapun.
  • Legenda ini juga menjadi larangan adat: menangkap ikan dengan tuba (racun) dilarang keras di masyarakat Sintang hingga hari ini.

Warisan Budaya yang Terus Hidup

Di persimpangan jalan menuju Bukit Kelam, berdiri sebuah patung — seorang pemuda Dayak yang memanggul batu hitam besar di atas pundaknya. Itu adalah Tugu Bujang Beji, penanda bahwa kisah ini bukan sekadar dongeng yang dilupakan, melainkan legenda yang dijaga dan dirawat oleh masyarakat Sintang dari generasi ke generasi.

Seperti Malin Kundang dari Sumatera Barat, Bujang Beji dari Sintang telah menjadi simbol universal: kisah tentang apa yang terjadi ketika manusia menempatkan keserakahan di atas kebijaksanaan, ketika dendam menguasai akal, dan ketika alam — dengan caranya sendiri — selalu menemukan cara untuk menegakkan keseimbangan.

Dan Bukit Kelam itu sendiri berdiri sebagai bukti abadi. Bukan sebagai monumen kemenangan, melainkan sebagai pengingat — bahwa bahkan batu yang paling besar pun bisa jatuh dari tangan yang salah.

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • alurcerita
  • beritacakrawala
  • beritakalbar
  • budayamelayu
  • headlinenews
  • hotelnusantara
  • infomasyarakat
  • infromasiakurat
  • jagatberita
  • kilaswaktu
  • laporanfakta
  • pariwisataku
  • rajawalipos
  • resepmasakanusantara
  • sintang
  • tanyaindonesia
  • wartadaerah
  • wartaolahraga
  • warungkabar
  • wibulovers